Terjemahan: Kendala bagi Sastra Indonesia
PxHere.com
Mendirikan lembaga-lembaga ataupun sekolah-sekolah terjemahan dan mengundang ilmuwan-ilmuwan mumpuni adalah solusi bagi permasalahan ini semua. Indonesia bisa mendirikan suatu lembaga seperti bagaimana Kekhalifahan Abbasiyah membangun Baitul Hikmah. Saat itu, Kekhalifahan Abbasiyah mempunyai program besar-besaran, yakni menerjemahkan bahasa Yunani, Syria, Sanskerta, Cina, dan Persia.
Di Rumah Pengetahuan yang terkenal itu, Kekhalifahan Abbasiyah menyerap buku-buku bahasa lain ke dalam bahasa Arab, seperti buku-buku filsafat, sastra, kedokteran, astronomi, dsb.
Setelah mereka menyerapnya, mereka kemudian mengambil hal-hal yang bermanfaat dan mengeliminasi hal-hal yang tidak sesuai bagi mereka. Semenjak itu, sejarah mengatakan bahwa Kekhalifahan Abbasiyah menjadi sumur dan sumber pengetahuan bagi bangsa-bangsa lainnya. Tentu, karena upayanya itu, Kekhalifahan Abbasiyah mampu mencetak banyak literatur besar, termasuk kesusastraannya.
Apakah Indonesia bisa mencontohnya? Bisa. Mungkin itu mudah secara teori, namun bukan berarti Indonesia tidak bisa ikut menerapkannya. Yang diperlukan adalah keseriusan dan kesadaran dari semua elemen negara. Target dekatnya adalah menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa lainnya, dan sebaliknya. Impian terbesarnya adalah menjadi sumur dan sumber ilmu-pengetahuan bagi dunia. Kenapa tidak?
Read more info "Terjemahan: Kendala bagi Sastra Indonesia" on the next page :
Editor :Muhammad Arif Apandi
Source : https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/5e9a518278faa/sastra-terjemahan-bahasa-asing-perkaya-khazanah-literatur-indonesia?utm_source=Direct&utm_medium=Search%20Page%201.1&utm_campaign=Indeks%20Pos%