
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" version="2.0">
<channel>
    <title>
        <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
    </title>
    <description>
        <![CDATA[ Informasi tentang Edukasi dan Budaya ]]>
    </description>
    <link>https://edubudaya.nusapos.com/rss.xml</link>
    <image>
        <url>https://edubudaya.nusapos.com/uploads/logo/483b6d1ec013bf544e3ccc5fc1e3c527.png</url>
        <width>130</width>
        <height>35</height>
        <title> Blog Edukasi dan Budaya </title>
        <link>https://edubudaya.nusapos.com/rss.xml</link>
    </image>
    <generator>Blog Edukasi dan Budaya</generator>
    <lastBuildDate>2026-04-12T00:00:00+07:00</lastBuildDate>
    <atom:link href="https://edubudaya.nusapos.com/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml"  />
    <language>
        <![CDATA[ id-ID ]]>
    </language>
    <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
    <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ 7 Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Guru Pembelajar Moda Daring dan Tatap Muka  ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-8603/7-prinsip-pelaksanaan-pembelajaran-guru-pembelajar-moda-daring-dan-tatap-muka</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ edukasi ]]>
        </category>
        <pubDate>2022-02-07T21:36:50+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-8603/7-prinsip-pelaksanaan-pembelajaran-guru-pembelajar-moda-daring-dan-tatap-muka</guid>
        <description>
            <![CDATA[ Pembelajaran Guru ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ Pada juknis GP tahun 2016 telah jelas, bahwa ada 7 prinsip pelaksanaan pembelajaran dengan moda daring, tatap muka, maupun #daring kombinasi. Semua Guru Pembelajar tentunya harus memegang teguh prinsip-prinsip ini sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran GP. Adapun 7 prinsip lengkap dengan penjelasannya sebagai berikut.
Tujuh Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Guru Pembelajar #Moda-Daring dan Tatap Muka
1. Mendorong komunikasi antara peserta dengan mentor dan/atau pengampu.Komunikasi yang baik dalam lingkungan belajar daring adalah praktik yang baik. Hal ini akan mendorong keterlibatan peserta dan membantu peserta mengatasi tantangan-tantangan dalam belajar.
2. Mengembangkan kedekatan dan kerjasama antar pesertaLingkungan belajar daring dirancang dan dikembangkan guna mendorong kerjasama dan dukungan timbal balik berbagi ide dan saling menanggapi antara sesama peserta.
3. Mendukung pembelajaran aktifLingkungan belajar daring mendukung pembelajaran berbasis proyek, dimana peserta melakukan proses pembelajaran secara aktif, mengakses materi, berdiskusi dengan sesama peserta dan mentor dan atau pengampu.
Peserta membahas apa yang dipelajari, menuliskannya, menghubungkan dengan pengalaman mereka, dan mengaplikasikannya.
4. Memberikan umpan balik dengan segeraKunci terhadap pembelajaran daring yang efektif adalah memberikan tanggapan secepatnya kepada peserta, yaitu melalui teks maupun suara.

Agar peserta merasakan manfaat atas kelas yang mereka ikuti dan merasakan bahwa proses belajar dalam daring tidak membosankan, peserta daring memerlukan dua macam umpan balik:umpan balik atas konten&nbsp;umpan balik untuk pengakuan kinerja.
5. Penekanan terhadap waktu pengerjaan tugasWalaupun lingkungan belajar daring memberikan keleluasaan untuk belajar dengan ritme masing-masing peserta, tetapi belajar daring membutuhkan batasan waktu pengerjaan tugas, sehingga peserta diarahkan untuk menggunakan rentang waktu yang telah di desain dalam sistem pembelajaran daring.
6. Mengkomunikasikan ekspektasi (harapan) yang tinggiPengertian Ekspektasi Apa itu ekspektasi? Ekspektasi adalah Harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik&nbsp;Harapan dengan standar yang tinggi sangat penting untuk semua, untuk yang kurang persiapan, untuk yang tidak bersedia mendorong diri sendiri, dan untuk yang pintar dan memiliki motivasi tinggi.
Dalam lingkungan pembelajaran daring, ekspektasi tinggi dikomunikasikan melalui tugas yang menantang, contoh-contoh kasus, dan pujian untuk hasil kerja berkualitas yang berfungsi untuk mencapai ekspektasi yang tinggi tersebut.
7. Menghargai berbagai macam bakat dan metode pembelajaranDalam pembelajaran daring, hal ini dapat diartikan dengan memberikan media belajar yang beragam, memilih topik tertentu untuk proyek maupun kelompok diskusi.
Menyediakan media belajar yang beragam bertujuan untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda serta memberikan akses khusus untuk penderita difabel.
Demikian tentang Prinsip-Prinsip Pembelajaran Guru Pembelajar Moda Daring dan Tatap Muka. Semoga Program Guru Pembelajar selalu sukses ]]>
        </content:encoded>
    </item>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ Perbedaan Teori Big Bang dan Steady State ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-8602/perbedaan-teori-big-bang-dan-steady-state</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ edukasi ]]>
        </category>
        <pubDate>2022-02-07T20:45:08+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-8602/perbedaan-teori-big-bang-dan-steady-state</guid>
        <description>
            <![CDATA[ perbedaan teori big bang dan steady state ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ Dalam dunia sains sering dilakukan pemodelan untuk menjelaskan atau menggambarkan suatu fenomena fisis dimana fenomena yang riilnya tidak terjangkau oleh indra penglihatan karena dimensi fenomena tersebut sangat kecil (mikroskopis) atau sangat besar. Dalam fisika atom kita pernah mengenal model atom, dimana dimodelkan bahwa dalam struktur atom tersebut, inti atom dikelilingi oleh elektron-elektron. Model ini dapat diterima sampai saat ini. Keberadaan model ini sangat penting sebagai titik tolak untuk penyelidikan lebih lanjut. Jarang sekali model yang diajukan langsung mapan, melainkan bisa gugur atau secara bertahap mengalami penyempurnaan, yang disesuaikan dengan data-data empirik yang diperoleh dari penyelidikan, maupun dengan hukum-hukum alam yang telah diterima keberlakuannya. Jika model ini telah terbukti keabsahannya dan diterima oleh khalayak maka dapat meningkat statusnya menjadi teori. Dari model itu pun penyelidikan dapat dilanjutkan kearah penelusuran pembentukan fenomena tersebut.
&nbsp;
Manusia sejak zaman dahulu mencari tahu tentang bagaimana jagat raya ini terbentuk. Hingga saat ini ada 2 anggap teori yang selalu diperdebatkan tentang hal tersebut yaitu Big Bang dan #Steady-State .
&nbsp;
Teori Big Bang
&nbsp;
Teori #Big-Bang adalah upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada awal alam semesta kita. Penelitian astronomi dan fisika telah menunjukkan tanpa keraguan bahwa alam semesta kita lakukan sebenarnya memiliki awal. Teori big bang adalah upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi selama dan setelah saat "itu".
&nbsp;
Menurut teori standar, alam semesta kita melompat menjadi ada sebagai "singularitas" sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Apa yang dimaksud dengan "singularitas" dan darimana asalnya? Nah, jujur, kita tidak tahu pasti. Singularitas adalah zona yang menantang pemahaman kita tentang fisika. Mereka diperkirakan ada pada inti dari sebuah "lubang hitam." Lubang hitam adalah daerah tekanan gravitasi yang intens. Tekanan yang sangat kuat membuat materi masuk dalam zona kepadatan tak terbatas. (sebuah konsep matematika yang benar-benar mengejutkan pikiran). Zona kepadatan tak terbatas &nbsp;ini disebut "singularitas." Alam semesta kita diperkirakan telah dimulai dari objek sangat kecil, jauh panas, jauh padat, "singularitas". Mana asalnya? Kita tidak tahu. Mengapa hal itu muncul? Kita tidak tahu.
&nbsp;

&nbsp;
Sesaat setelah ledakan (the "Big Bang"), meluas, dingin lalu membentuk berbagai macam galaksi, planet dan benda langit lain. Hal ini terus berkembang dan dingin untuk sampai saat ini dan kita hidup di dalamnya: makhluk yang luar biasa hidup di sebuah planet yang unik, mengitari sebuah bintang yang indah berkumpul bersama-sama dengan beberapa ratus miliar bintang di galaksi melonjak di dalam makrokosmos, yang semuanya adalah dalam alam semesta yang mengembang yang dimulai sebagai singularitas sangat kecil yang muncul entah dari mana untuk alasan yang tidak diketahui. Ini adalah teori Big Bang. Pendukung teori ini adalah Hwaking, Einstein dan Lemaitre.
&nbsp;
Teori Steady State
&nbsp;
Teori steady - state adalah pandangan bahwa alam semesta selalu berkembang tetapi menjaga kepadatan rata-rata yang konstan, materi yang terus menerus diciptakan untuk membentuk bintang baru dan galaksi pada tingkat yang sama bahwa yang lama menjadi tidak teramati sebagai konsekuensi dari meningkatnya jarak dan kecepatan mereka resesi. Menurut teori steady -state alam semesta tidak memiliki awal atau akhir dalam waktu; rata-rata kerapatan galaksi adalah sama.
&nbsp;
&nbsp;
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Sir James Jeans di sekitar tahun 1920 dan kemudian direvisi pada tahun 1948 oleh Hermann Bondi dan Thomas Emas. Ini dikembangkan lebih lanjut oleh Sir Fred Hoyle untuk menangani masalah yang timbul sehubungan dengan hipotesis big-bang. Pengamatan sejak tahun 1950 telah menghasilkan banyak bukti bertentangan dengan gambaran kondisi mapan dan mendukung model big -bang sehingga teori keadaan tetap ditolak. Semoga bermanfaat. ]]>
        </content:encoded>
    </item>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ Terjemahan: Kendala bagi Sastra Indonesia ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/budaya/np-6504/terjemahan-kendala-bagi-sastra-indonesia-30</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ budaya ]]>
        </category>
        <pubDate>2021-03-08T19:14:25+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/budaya/np-6504/terjemahan-kendala-bagi-sastra-indonesia-30</guid>
        <description>
            <![CDATA[  ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ BANDUNG &ndash; Sastra Indonesia memiliki #sejarah yang panjang. Dari zaman penjajahan sampai sekarang, sastra Indonesia sudah melahirkan banyak penulis hebat dan beberapa bahkan diakui dunia. Sebut saja Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, dan masih banyak lagi penulis lainnya yang diakui dunia sebagai penulis besar.
Sejarah sastra Indonesia masih berjalan hingga sekarang. Kita yang hidup di zaman sekarang adalah pewaris sah kesusastraan #Indonesia yang terkenal kaya akan pandangan hidup, estetika, dan kearifan lokal. Oleh karenanya, kita memiliki peran untuk meneruskan, mengembangkan, dan melestarikan warisan kesusastraan Indonesia yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita. Tentunya, kita ingin agar sastra Indonesia melebarkan sayapnya hingga ke seluruh dunia.
Sayangnya, masih banyak kendala bagi sastra Indonesia untuk dilirik mata dunia. Salah satunya, masih minimnya penerjemah-penerjemah bahasa Indonesia ke dalam bahasa asing di luar dari bahasa Inggris. Begitupun sebaliknya.&nbsp;
Distribusi karya sastra Indonesia ke negara-negara lainnya terhambat oleh masalah sedikitnya penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Sastra Bernando J. Sujibto, seorang akademisi, berkomentar perihal kelemahan sastra Indonesia, yakni masalah tentang penerjemahan dan relasi untuk penyebaran sastra Indonesia itu sendiri. Dalam keterangan lebih lanjut, beliau mengatakan, "Menurut saya, langkah yang tepat adalah menerjemahkan khazanah sastra di luar bahasa Inggris itu, saya belajar dari Turki," (Katadata.co.id, 1/7/2019)
Dengan demikian, dalam upaya mengenalkan sastra Indonesia ke dunia internasional, kualitas dan kuantitas sumber daya penerjemah perlu ditingkatkan. Terjemahan karya sastra Indonesia tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, namun juga perlu diterjemahkan ke dalam bahasa lainnya, misalnya ke dalam bahasa Jepang atau Cina. Tidak hanya itu, solusi Sastra Bernando J. Sujibto itu juga sangat perlu dipertimbangkan: menerjemahkan kesusastraan peradaban bangsa lain ke dalam bahasa Indonesia.&nbsp; 
Mendirikan lembaga-lembaga ataupun sekolah-sekolah terjemahan dan mengundang ilmuwan-ilmuwan mumpuni adalah solusi bagi permasalahan ini semua. Indonesia bisa mendirikan suatu lembaga seperti bagaimana Kekhalifahan Abbasiyah membangun Baitul Hikmah. Saat itu, Kekhalifahan Abbasiyah mempunyai program besar-besaran, yakni menerjemahkan bahasa Yunani, Syria, Sanskerta, Cina, dan Persia.&nbsp;
Di Rumah Pengetahuan yang terkenal itu, Kekhalifahan Abbasiyah menyerap buku-buku bahasa lain ke dalam bahasa Arab, seperti buku-buku filsafat, sastra, kedokteran, astronomi, dsb.&nbsp;
Setelah mereka menyerapnya, mereka kemudian mengambil hal-hal yang bermanfaat dan mengeliminasi hal-hal yang tidak sesuai bagi mereka. Semenjak itu, sejarah mengatakan bahwa Kekhalifahan Abbasiyah menjadi sumur dan sumber pengetahuan bagi bangsa-bangsa lainnya. Tentu, karena upayanya itu, Kekhalifahan Abbasiyah mampu mencetak banyak literatur besar, termasuk kesusastraannya.
Apakah Indonesia bisa mencontohnya? Bisa. Mungkin itu mudah secara teori, namun bukan berarti Indonesia tidak bisa ikut menerapkannya. Yang diperlukan adalah keseriusan dan kesadaran dari semua elemen negara. Target dekatnya adalah menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa lainnya, dan sebaliknya. Impian terbesarnya adalah menjadi sumur dan sumber ilmu-pengetahuan bagi dunia. Kenapa tidak?
&nbsp; ]]>
        </content:encoded>
    </item>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ Berbahasa Indonesia adalah Mencintai Budaya Indonesia ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/budaya/np-6481/berbahasa-indonesia-adalah-mencintai-budaya-indonesia</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ budaya ]]>
        </category>
        <pubDate>2021-03-04T18:45:37+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/budaya/np-6481/berbahasa-indonesia-adalah-mencintai-budaya-indonesia</guid>
        <description>
            <![CDATA[  ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ Bahasa #Indonesia adalah salah satu budaya Indonesia. Mencintai budaya Indonesia itu tidaklah rumit. Kita bisa mencintai budaya Indonesia dengan cara berbahasa #Indonesia yang baik dan benar. Ya, mencintai #budaya Indonesia itu mudah. Kita bisa mempraktikannya dengan #berbahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari.
Baca Juga khutba masjidil haram gunakan bahasa indonesia
Berbahasa itu terdiri empat keterampilan: mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Kita bisa mempraktikkan empat keterampilan ini untuk melaksanakan kecintaan kita kepada #budaya Indonesia.&nbsp;
Kita bisa mendengarkan musik Indonesia. Kita bisa mendengarkan pembacaan puisi Indonesia. Kita bisa mendengarkan pidato-pidato dalam bahasa Indonesia. Kita bisa mendengarkan diskusi-diskusi berbahasa Indonesia. Kita bisa mendengarkan apa pun yang tentang Indonesia.
Kita bisa membaca aksara bahasa Indonesia. Kita bisa membaca puisi-puisi Indonesia. Kita bisa membaca cerpen-cerpen Indonesia. Kita bisa membaca novel-novel Indonesia. Kita bisa membaca surat kabar yang berbahasa Indonesia. Kita bisa membaca komik-komik berbahasa Indonesia. Kita bisa membaca segala yang berbahasa Indonesia.
Kita bisa berbicara dengan teman dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kita bisa menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan-pertemuan. Kita menggunakan bahasa Indonesia ketika rapat di kantor. Kita menggunakan bahasa #Indonesia ketika kita bertemu dengan orang-orang baru. Kita menggunakan bahasa Indonesia ketika mencurahkan isi hati kepada sahabat.
Kita menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia ketika kita menulis caption di akun Instagram. Kita menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia ketika kita hendak berkeluh-kesah di dinding Facebook. Kita menulis dengan menggunakan bahasa #Indonesia ketika kita menghubungi teman lewat WhatsApp. Kita menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia ketika menulis surat cinta sampai surat lamaran kerja.
Kalau kita masih menggunakan bahasa Indonesia, kita sedang mempraktikkan kecintaan kita terhadap budaya Indonesia. Ini adalah hal kecil yang sering tidak kita sadari, bahkan tidak jarang juga sering kita abaikan. Bagaimana tidak, kita sering mengatakan betapa pentingnya mencintai budaya bangsa kita ini, namun kita tidak tahu harus berbuat apa untuk mempraktikkannya. Padahal, berbahasa Indonesia sama dengan mencintai budaya Indonesia. Mudah. Oleh karenanya, mencintai budaya Indonesia itu pada kenyataannya bisa sesederhana itu: berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Kita sering membicarakan hal-hal yang jauh ketika kita berbicara bagaimana cara mencintai budaya Indonesia. Padahal, ada sesuatu yang sangat dekat dalam kehidupan kita, yang darinya kita bisa melaksanakan keinginan kita untuk menghayati kebudayaan Indonesia. Ya, sekali lagi, itu adalah bahasa Indonesia.
Mencintai bahasa Indonesia itu harus. Namun, itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh mempelajari bahasa asing. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, mempelajari bahasa asing menjadi semacam tuntutan bagi kita yang hendak belajar dari bangsa lain. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya sekarang ini banyak tulisan berbahasa asing di internet yang sangat berguna bagi kehidupan kita, entah sebagai individu maupun sosial. Oleh karena itu, kita bisa mengambil manfaat dari informasi-informasi berbahasa asing dengan cara mempelajari bahasa asing itu sendiri.
Selain itu, ada satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan, yakni betapa pentingnya melestarikan bahasa daerah. Bagaimanapun, bahasa daerah adalah bahasa ibu bagi kebanyakan dari kita. Bahasa daerah adalah tanda bahwa budaya Indonesia itu sangatlah kaya. Setiap bahasa memiliki dunianya sendiri dan Indonesia memiliki banyak bahasa daerah. Artinya, Indonesia adalah bangsa yang kaya akan pandangan hidup dan kearifan lokal. Sedangkan bahasa Indonesia itu sendiri adalah pelengkap bagi kabar gembira mengenai kekayaan budaya Indonesia: bahasa Indonesia itu menjadi tali penyambung bagi banyaknya bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.&nbsp;
Mari kita cintai budaya Indonesia. Berbahasa Indonesia adalah salah satu cara bagi kita untuk mencintai budaya Indonesia. Hal itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengenal bahasa asing, karena banyak manfaat yang berguna jika kita mempelajari bahasa asing. Selain itu, kita tidak boleh melupakan bahasa daerah kita sendiri karena bagaimanapun juga bahasa daerah itu memiliki arti penting dalam kehidupan kita masing-masing.
&nbsp; ]]>
        </content:encoded>
    </item>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ Membaca secara Aktif ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-6479/membaca-secara-aktif</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ edukasi ]]>
        </category>
        <pubDate>2021-03-04T15:57:13+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-6479/membaca-secara-aktif</guid>
        <description>
            <![CDATA[  ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ Membaca adalah salah satu keterampilan. Faktanya, membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa. Akan tetapi, keterampilan membaca kalah pamor dengan keterampilan berbicara. Buktinya, orang-orang lebih suka mengikuti pelatihan public speaking, daripada pelatihan #membaca secara aktif.&nbsp;
Suka atau tidak, literasi negara Indonesia sangat tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya, bahkan dengan negara-negara tetangga. Banyak hal yang menjadi penyebab kenapa literasi Indonesia sangat mengkhawatirkan. Salah satunya, sulitnya mendapatkan akses terhadap bacaan-bacaan bagi mereka yang tinggal di pinggiran.
Bagaimanapun, mayoritas penduduk Indonesia sekarang bisa mengakses bacaan- #bacaan dengan hanya modal kuota internet. Mayoritas orang Indonesia bisa memanfaatkan Google untuk memperoleh informasi yang bermanfaat. Akan tetapi, bacaan, berita, ataupun informasi yang kita peroleh itu masih merupakan "bahan mentah" yang mesti diolah dengan kemampuan membaca. Contohnya, mengolah informasi, berita, ataupun bacaan dengan membaca secara aktif.
Prinsip yang paling utamanya adalah, kita harus terlibat secara aktif dengan apa pun yang kita baca. Membaca secara aktif bukanlah hanya sekadar menggerakan mata mengikuti deretan kata dengan pikiran yang pasif dan kosong. 
Membaca secara #aktif adalah membaca dengan membawa tujuan. Tujuan kita membaca adalah menangkap informasi ataupun pesan yang hendak disampaikan oleh penulis lewat tulisannya.&nbsp;
Salah satu pandangan yang keliru mengenai membaca di jelaskan dalam bukunya yang berjudul How to Read a Book, Mortimer J. Adler &amp; Charles Van Doren mengatakan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan menerima komunikasi dari seseorang yang terlibat secara aktif memberi dan mengirimkan pesan ataupun informasi. Menerima menyiratkan sesuatu yang pasif seperti halnya ketika diam sementara angin melewati tubuh kita. Lebih lanjut, Mortimer J. Adler &amp; Charles Van Doren menjelaskan bahwa membaca adalah seperti kegiatan penangkap bola dalam permainan baseball (1967:5).
Di dalam permainan baseball, ada yang bertugas melempar bola dan ada yang bertugas sebagai penangkap bola. Faktanya, kedua pemain itu melakukan kegiatan aktif. Seni menangkap bola dalam permainan baseball adalah keterampilan menangkap setiap jenis lemparan&mdash;bola cepat, bola atas, maupun bola landai. Begitupun dengan membaca. Permainan bola baseball tidak akan berjalan lancar jika pemain yang bertugas menangkap bola hanya diam pasif, tidak bisa mengikuti arah maupun gaya si pelempar bola. Begitupun dengan membaca.
Proses komunikasi tidak akan berjalan lancar jika pembaca menempatkan dirinya dalam posisi pasif atas bacaan-bacaannya. Dengan demikian, membaca adalah salah seni menangkap setiap jenis komunikasi sebisa mungkin.&nbsp;
Hubungan antara penulis dan pembaca itu serupa. Artinya, komunikasi yang ideal antara penulis dan pembaca terjadi ketika pembaca bisa mengikuti proses komunikasi yang disampaikan penulis.
Membaca secara aktif tidak hanya dapat mengatasi krisis literasi negara Indonesia, namun juga dapat menjadi suatu cara dalam memerangi masalah penyebaran berita hoax yang masih terjadi sampai sekarang. Oleh karena itu, membaca secara aktif harus mulai dimulai dari sekarang. Semua elemen negara mesti terlibat untuk mewujudkan kegiatan membaca secara aktif, seperti kebijakan pemerintah yang mesti menggalakan pendidikan membaca secara aktif, peran keluarga dan lingkungan juga diharapkan mampu mendorong siapa pun untuk mulai membaca secara aktif.
&nbsp; ]]>
        </content:encoded>
    </item>

        
    <item>
        <title>
            <![CDATA[ Pentingnya Sastra bagi Anak-anak ]]>
        </title>
        <link> https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-6475/pentingnya-sastra-bagi-anak-anak</link>
        <dc:creator>
            <![CDATA[ Blog Edukasi dan Budaya ]]>
        </dc:creator>
        <category>
            <![CDATA[ edukasi ]]>
        </category>
        <pubDate>2021-03-04T12:30:28+07:00</pubDate>
        <guid isPermaLink="false">https://edubudaya.nusapos.com/edukasi/np-6475/pentingnya-sastra-bagi-anak-anak</guid>
        <description>
            <![CDATA[  ]]>
        </description>
        <content:encoded>
            <![CDATA[ &ldquo;A child&rsquo;s world is fresh and new and beautiful, full of wonder and excitement.&rdquo;
&nbsp;
&mdash;RACHEL CARSON
&nbsp;
Sastra merupakan salah satu bentuk seni yang memiliki peran untuk memaknai kehidupan kita dengan dunia sekitar. Selain itu, #sastra juga memiliki peran untuk membantu siapapun yang sedang canggung dalam memutuskan nilai-nilai (values) pengalaman dan hubungannya dengan benda-benda di sekitar, dan membantu mengembangkan citra diri yang positif.&nbsp;
Dengan melihat kenyataan sekitar, kegemaran dalam membaca buku anak-anak di sekitar kita tampaknya masih sangat minim. Ia masih tersisihkan oleh media-media lain seperti televisi, tablet, smartphone dll.&nbsp;
Media-media seperti televisi, gadget, dan #smartphone mungkin sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan, dan tugas para pendidik adalah menjadikan kebiasaan membaca sebagai bagian integral pula dalam kehidupan. Hal itu tentunya harus dimulai dari usia dini. Hal itu tentunya penting mengingat bahwa sastra bisa membantu #anak-anak memahami dunia sekelilingnya, membangun sikap-sikap positif, dan membuat mereka lebih peka pada rasa kemanusiaannya. Berikut ini adalah kenapa sastra sangat penting bagi anak-anak.
&nbsp;
Peka Terhadap Dunia Sekelilingnya
Dengan membaca buku-buku sastra, anak-anak bisa belajar dan sekaligus membangun kesadaran mereka atas dunia sekelilingnya. Tentu kita ingat suatu pepatah yang mengatakan bahwa buku merupakan jendela dunia. Dengan membaca buku, anak-anak bisa mendapatkan pemahaman dan sekaligus menjadi lebih peka pada dunia sekelilingnya.
Anak-anak mampu memahami dunia mereka secara lebih baik dengan membaca buku-buku. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula pemahaman yang akan mereka raih. Buku yang berkesan tentunya akan membuat anak-anak memiliki pengalaman yang lebih bermakna. Di samping itu, disadari atau tidak, anak-anak akan mempelajari hal-hal yang baru sebanya karena buku bisa terus dipelajari, dibaca ulang, direnungkan dari waktu ke waktu, sehingga menjadikanya media ideal untuk membantu anak-anak belajar dan memahami. Jika kita memang percaya ini, tentu anak-anak harus diberi buku-buku sastra yang memiliki tema luhur, memiliki cerita yang menarik, tokoh-tokohnya yang memiliki karakter luar biasa, ataupun mengandung ide-ide dan nilai-nilai yang positif bagi mereka. Di sinilah letak peran penting para pengkaji dan pendidik sastra, yaitu memilah-milah buku yang layak dibaca oleh anak-anak yang berorientasi pada pembangunan karakter anak-anak itu sendiri. Dalam hal ini, Rohinah M. Noor mengatakan (2011: 37-38);
&ldquo;&hellip;sebuah buku dapat dipandang sebagai sastra anak jika citraan dan metafora kehidupan yang dikisahkan baik dalam hal isi (emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, dan pengalaman moral) maupun bentuk (kebahasaan dan cara-cara pengekspresian) dapat dijangkau dan dipahami oleh anak sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya.&rdquo; Dengan demikian, ada orientasi khusus untuk memberikan buku bacaan pada anak-anak kecil.

Membangun Sikap-Sikap Positif
Poin kedua dari pentingnya sastra bagi anak-anak ialah bahwa sastra bisa membantu anak membangun sikap-sikap yang positif. Penting untuk dicatat bahwa anak-anak selalu membangun sikap pada segala sesuatu yang telah dijumpainya. Mereka tentunya ingin mengembangkan diri ke sesuatu yang lebih positif dan membuat diri mereka menjadi lebih kompeten sehigga diberi pujian oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini, tentunya buku-buku sastra akan membantu mereka untuk mewujudkan itu semua.
Sastra bisa membantu anak-anak dalam mengembangkan citra diri yang positif dalam dunia yang penuh tekanan. Masalah ekonomi, kejahatan, obat-obatan, dan masalah-masalah lainya sering merupakan masalah yang tak mustahil dialami oleh anak-anak. Masalah keluarga dan ekonomi boleh jadi merupakan faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak terlibat dalam kejahatan. Dengan demikian, sastra bisa menjadi solusi melihat begitu maraknya anak-anak yang terjebak dalam dunia kejahatan, misalkan.
Sastra juga bisa membantu anak-anak memahami perasaan yang sedang mereka rasakan. Membaca buku-buku sastra terkadang tidak hanya sekedar menempatkan diri kita sebagai pembaca, tapi juga terkadang melibatkan diri kita secara aktif di dalamnya. Maka dari itu, buku-buku sastra bisa menjelaskan perasaan anak-anak yang terkadang tak bisa mereka ungkapkan pada orang-orang sekitar, bahkan pada diri mereka sendiri.
&nbsp;
Mengembangkan Imajinasi
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar manusia adalah imajinasinya. Kehebatan manusia justru bukan terletak pada pengetahuannya seperti apa yang disiratkan oleh Francis Bacon, namun seberapa jauh mereka bisa mengembangkan imajinasinya. Kembali lagi pada Plato, mungkin ini pula yang membuatnya menjadikan sastra sebagai hal utama yang harus diajarkan pada anak-anak. Alasan kenapa dia menjadikan ilmu-ilmu eksak sebagai hal yang kedua boleh jadi karena ilmu-ilmu akan terasa kering tanpa kehadiran imajinasi. Dalam hal ini tentunya secara tak langsung bisa melatih daya imajinasi anak-anak.
&nbsp;
***
Dari paparan di atas, sastra sangat penting bagi anak-anak. Ia bisa mengajarkan nilai-nilai positif, dan membantu mengembangkan citra diri anak-anak dengan memberikan mereka buku-buku yang berorientasi pada sastra anak-anak. Memperingati Hari Anak ini, kita tentunya tidak mau adik-adik kita, ataupun anak-anak kita terjerumus dalam hal-hal negatif sehingga bisa merugikan diri mereka. Sebagai orang dewasa, ataupun pendidik, kita tentu berperan untuk mendorong mereka anak-anak pada hal-hal yang positif, salah satunya adalah dengan mengenalkan sastra, dan menjadikanya sebagai bagian integral dalam kehidupan mereka.
&nbsp;
&nbsp;
#sastra #anak-anak #pendidikan #membaca #buku ]]>
        </content:encoded>
    </item>

    

</channel>
</rss>